Senin, 16 april 2007
Kembali ke umar kayam.
Ayu tadi pagi keliatan stres banget. Dia bingung dari cengkareng naek apa ke thamrin. Kalo naek taxi katanya uangnya nggak cukup, ya udah kusaranin naek damri aja ke gambir, trus naek busway ato taxi ke thamrin. Jauh lebih hemat.
Jadi cerita kali ini tentang perjalanan 2 hari kemarin.
Perjalanan berangkat.
Sabtu, 14 april 2007
Pagi jam 7.15 japek udah dateng ke rumah. Lengkap dengan matras dan 2 kilo kentang plus 2 bungkus indomi goreng-nya. Agak lucu sih dia bawa mi, karena kami bawa bahan makanan normal lengkap, termasuk beras dan bumbu-bumbu soto. He he he, yah, lucu aja. Banget.
Setelah ribut dan rebyek kiri-kanan, jam 9 akhirnya kami berangkat setelah sarapan yamie di pasar pathuk. Semuanya dengan porsi jumbo, sampe mblenek-mblenek di perut. Week… :p (terutama buat japek dan ayu yang baru pertama makan porsi jumbo, ha ha ha, rasakan).
Dan setelah kami berempat kena tilang karena melanggar lampu merah, plus japek belum punya sim, dan 40.000 melayang ke tangan bapak-bapak polisi (kami nggak dikasih surat tilang…jadi akan kemanakah uang yang kami bayarkan itu?), kami ribut lagi nyari spirtus, dan amplas buat busi supra x-nya japek. Baru deh meluncur ke arah karangayar.
Tujuan pertama sebenarnya candi cethga karena hari itu hari sarasawati dan candi cetha sedang piodalan. Tapi mengingat baru jam 10 kami menginjak jalan solo, rasanya akan jauh setelah jam 12 kami baru akan tiba di candi cetha, dan artinya sama sekali nggak kebagian upacara piodalannya.
Perjalanan kami sering berhenti karena ketut harus sering mbenerin letak karier-nya yang gede banget dan di taruh di bagian depan motor. Jogja-solo cuacanya panas gila. Mampus-mampus deh pokoknya, sumpah panas banget.
Masuk karanganyar udara jadi sejuk dan hujan rintik-rintik mulai turun. Ayu nggak bawa jas ujan, untung jaket yamaha-nya lumayan kedap air. Terus jalan, dan setelah sekali salah belok, dan berkali-kali mbenerin letak karier kami, dan sekitar belasan kali nanya ke orang-orang di pinggir jalan, akhirnya jam 12.30 kami nyampe juga di tempat bayar retribusi kawasan wisata candi sukuh-candi cetha.
Dengan perhitungan jarak dan kadar kelelahan, kami memilih candi sukuh sebagai tujuan pertama karena hanya berjarak 1,5 km dari pos retribusi. Sedangkan candi cetha masih sekitar 15 km lagi.
Untuk ulasan lebih lanjut tentang candi sukuh, akan ada di blog edisi khusus ya ![]()
Candi sukuh ada di ketinggian 1100m dpl. Bentuknya seperti minatur2 yang banyak ditemui di sepanjang jalan di kota karanganyar. Seperti piramida tapi tanpa puncaknya. Dan ada tangga yang sempit dan curam di bagian tengahnya. Di kawasan candi sukuh, banyak arca garudeya dan phalus-vagina. Serta relief dewi durga yang meminta pertolongan dari sadewa (sahadewa).
Candi ini terhitung paling muda dari candi-candi lainnya yang ada di pulau jawa. Dibuat sekitar pertengahan abad ke 15. jalanan menuju candi sukuh sangat bagus dan di hot-mix. Terawat banget lah. Dan taman lokasi candi juga terawat dengan sangat baik. Kenapa?
Jam 2pm kami meninggalkan candi sukuh dan menuju candi cetha. Jalanan curam menurun dan licin karena baru saja hujan. Dan saat kami beranjak, hujan kembali turun rintik-rintik.
Candi cetha
Ternyata candi ini jauh banget dari candi sukuh. Menuju candi ini harus melewati kawasan agrowisata perkebunan teh yang jalannya berliku-liku. Pemandangan di kanan-kiri kami seharusnya sangat indah, tapi sayangnya… sayangnya waktu itu kabutnya tebel banget sehingga jarak pandang kami Cuma 10 meter aja. Hahaha… bener-bener putih semua. Nggak gelap, tapi putih.
Jalanan semakin menanjak, dan semakin menanjak sampe akhirnya ada plang bertuliskan “candi cetha 3km” dan belok kanan. Belok ke…?? Ya ampun itu sih bukan belok, tapi manjat ke kanan. Manjat kerena jalannya tiba-tiba aja jadi naek banget. Gila deh. Dan ternyata itu belum segila jalanan selanjutnya. Penuh tikungan tajam, licin karena hujan, dan nanjaknya banget. Bangeeeet…..
Ha ha ha ha, very exciting. Sampe varioku hampir nggak kuat. Sementara ayu-japek dengan supra-x nya udah berhenti dan ayu terpaksa jalan kaki ke atas. Dia komat-kamit sepanjang jalan yang nanjak itu, nyumpah2in aku karena milih tempat maen ke situ. Ha ha ha. Menyenangkan, menyenangkan ![]()
Candi cetha terdiri dari 13 teras. Dengan arca-arca yang reliefnya sederhana, dan juga ditemukan di dearah sulawesi. Kami waktu itu belum sampai teras tertinggi karena perhatian ketut ter-distract oleh papan penunjuk arah ke puri saraswati.
Kami mengikuti arah yang ditunjuk papan itu dan menemukan plang lain ke arah candi kethek. Pertama-tama kami ke puri taman saraswati dulu.
Hujan terus turun rintik-rintik, dan udara dingin banget. Aku bersin-bersin nggak berhenti-berhenti sampe japek kasih syal kebesarannya yang dia pake tiap kali naek gunung.
Kami melihat patung dewi saraswati yang gede dan bagus dan pelataran puri itu bertaburan bunga persembahyangan dari orang-orang sebelumnya. Ayu dan ketut ambil tiker dan cari tempat di bawah atap. Setelah bakar dupa, mereka sembahyang selama beberapa saat. Sementara japek yang waktu itu tiba-tiba menghilang, ternyata juga sedang sembahyang (dia ngotot menyebutnya “sholat”) tapi di rerumputan (akunya sih).
Setelah itu kami turun, ke arah candi kethek. Plang itu menuliskan jarak 300m, tapi kemudian ketut dan ayu protes karena 300m-nya ukuran orang gunung alias jauh banget melebihi 300m-nya bukan orang gunung. Apa sih ?? :p
Setelah sempet menyeberangi sungai kecil yang berbatu, batu dan sedikit jalanan menanjak di tengah hutan, kami sampai juga di candi kethek. Sepertinya sedang dipugar, dan kami nggak menjumpai sebentuk arcapun. Aku melihat ada relief bunga perlambang kesuburan seperti banyak terdapat di candi cetha dan sukuh. Dan hampir serupa dengan 2 candi sebelumnya, komplek candi yang jauh lebih kecil dari candi-candi lainnya ini memiliki teras-teras dengan tangga sempit nan curam.
Di bagian paling atas dari candi ini ada semacam pura kecil buatan manusia. Untuk tempat sembahyang, mungkin.
Kembali turun untuk meneruskan menikmati candi cetha, hal yang tidak kami inginkan terjadi. Gerbangnya di kunci. Ya ampunn… jadi kami nggak bisa masuk ke kompleks candi cetha lagi. Padahal tadi belum sampai ke teras tertingginya. Dan kami juga nggak ada rencana untuk datang lain kali ke kompleks candi itu, dikarenakan jalanannya yang terlalu mengerikan. Terlalu mengerikan untuk diulangi sekali lagi. Hiii….
Bumi perkemahan
Ya sudah. Kami turun kembali ke jalan raya tawangmangu. Langit sudah gelap karena malam menjelang. Dan…. Kami nggak tahu letak bumi perkemahan tawangmangu. Yang bisa kami lakukan hanya terus melaju membelah kelamnya langit lereng lawu malam itu. Diiringi deraian air hujan sepanjang jalan, dan kelokan tajam jalanan. Hanya cahaya dari lampu motor saja yang menemani kami melewati rimbunan hutan di gunung lawu.
Sekitar jam 8an kami sudah hampir sampai di cemoro sewu, sampai akhirnya aku nanya ke seorang warga desa setempat tentang lokasi perkemahan. Ternyata kami harus turun lagi, karena sudah kelewatan alias kebablasan.
Wah… tampang japek jadi jelek banget. Karena tadi kami udah nanjak setengah mati, dan dari tadi dia juga setengah mati khawatir mesin motornya akan mati (meski ternyata engga), tapi rasanya sayang udah susah-susah naek, eh, harus turun lagi. Jauh pula turunnya. Dia maunya kami nge-camp di cemoro sewu aja. Haaaaaaaa…??? Kan dingin banget!
Jam 9 pm, kami sudah mulai buat tenda. 2 warga desa setempat tadi sangat baik hati mau nganterin kami sampai ke lokasi perkemahannya. Wah, semoga Tuhan membalas kebaikan hati mereka.
Sebenarnya ada 2 pilihan lokasi camping: bumi perkemahan atau lawu camping resort. Tapi berdasarkan informasi warga desa tadi, sebaiknya kami di bumi perkemahan aja, karena relatif lebih ada orang, dari pada di lawu resort yang sama sekali sepi.
Jadi kami camping di bumi perkemahan tawangmangu. Malam itu kami makan soto jerohan sapi, yang pada akhirnya jadi mblenger sendiri, karena berlemak banget. Sementara itu si japek nglayap sendiri. Mungkin sedang merenungi nasibnya.
Kami tidur dalam tenda wilderness yang terlalu sempit untuk 4 orang. Ditambah kabut tebal yang turun malam itu, membuat dinding tenda basah. Kasihan lelaki-lelaki yang tidur di bagian pinggir, mereka tidur sambil kebasahan.
Pagi hari, terbangun dengan kondisi tenda kosong. Karena ayu dan japek dah keluar duluan. Aku terbangun karena ada bunyi2 aneh di sekeliling tenda. Ternyata tenda kami sudah dikepung oleh sekawanan kalkun yang suaranya “klukklukkluk..!!” nyaring banget. Mereka semua ada sekitar 12 ekor, plus 2 ekor ayam kampung yang mungkin merasa di dalam tubuhnya mengalir darah seekor kalkun. Jadi dia bergabung dalam rombongan kalkun itu, meski kadang-kadang dia diusir paksa oleh kalkun2 yang tua. Malangnya.
Dan tak hanya itu, waktu kami bersiap untuk sarapan : ayam goreng, paru-paru sapi goreng, kentang goreng, dan sisa soto semalam, datang lagi mahluk2 lainnya. Berwarna hitam, bertaring dan berbulu. Rupanya 2 ekor anjing. Mereka terus nangkring di tenda kami sampai akhirnya kami kukut-kukut dan berbenah, bersiap pulang.
Tak perlu waktu lama bagi kami untuk tahu bahwa seekor diantara kedua anjing itu memiliki tingkat IQ lebih rendah dari yang lainnya. Terbukti ketika kami beri mereka lombok rawit. Yang agak terbelakang segera melahap lombok rawit rebus itu tanpa pikir panjang. Sedang satunya lagi cuek-cuek saja. Tak cukup dengan lombok rawit, anjing ber-IQ jongkok juga melahap habis stereofoam pembungkus daging dan kresek bekas ayam. Apa dia nggak keracunan ya?
Perjalanan pulang
Sempet mampir ke air terjun grojogan sewu. Tapi belum sempet nengok air terjunnya, ayu udah males duluan karena rame banget. Ketut nggak mood karena disana macacca-nya banyak banget. Dia paling takut sama monyet-monyetan. Dan japek sepertinya bad mood karena mukanya di tekuk terus dan tak henti sms-an.
Dan aku… setelah di telp mbak nina yang mau ke jogja untuk meeting LDCC, jadi nggak konsen lagi. Akhirnya kami memilih untuk pulang saja. Dan memikirkan topik skripsi sambil menikmati pemandangan sepanjang perjalanan pulang. Di jalan mau mampir ke taman semar, tapi ayu cs udah ngantuk. Nggak jadi deh. Cuma sempet mampir makan sate kambing di solo. Kehabisan tengkleng dll. Dan makan bakso segede bola basket, seharga 10ribu perak.
Sampe jogja jam 3 sore, nonton mbak eka di kick andy edisi jugun ianfu, sedikit film the island di hbo, sebelum akhirnya jatuh tertidur dan melewatkan kesempatan untuk latihan yoga. Bangun jam 7 malam.
Dan selanjutnya……….. pergi ke combine untuk ngerjain modul security UN terkutuk itu sampe jam 11 malam :p
Dan sekarang udah di umar kayam lagi. Sedang memikirkan hari esok yang akan kami isi dengan aksi mogok kerja.
What a beautiful life
Ciao.
Hai, Salam Kenal
sekedar membagi Informasi tentang rental tenda / tenda dome & alat - alat kemping / berkemah, serta
pembuatan dan penjualan tenda dan tenda promo, klik saja di :
http://www.mrcamp.net
atau
http://www.tendaku.net
thx..
June 4, 2008 @ 9:59 pmwah sayang ndak ada fotonya ya…
September 21, 2008 @ 7:59 pm